Rabu, 02 Juli 2014

Komputer Tercepat


Komputer tercepat berada di laboratorium raksasa Los Alamos New Mexico, Amerika, dibuat oleh perusahaan IBM, dan dinamakan ”Roadrunner”. Kecepatannya telah menembus 1 Petaflop pada 25 Mei 2008.
1 Petaflops, bukan 1 juta kalkulasi per detik, bukan 1 milyar kalkulasi per detik, dan bukan 1 trilyun kalkulasi per detik. 1 Petaflop, adalah quadrillion kalkulasi per detik, atau 1.000 trilyun kalkulasi perdetik. Roadrunner ditargetkan akan mencapai kecepatan puncak 1,7 Petaflops.
1 Teraflops = 1 trilyun kalkulasi per detik
1 Petaflops = 1.000 trilyun kalkulasi per detik
Komputer Roadrunner ini lebih cepat 60.000 kali dibanding komputer pribadi tercepat saat ini. Harganya sekitar US$ 133 Juta. Satu fakta menarik, superkomputer ini memiliki struktur sel yang nyaris sama dengan mainan komputer anak-anak, Playstation 3. Roadrunner menggunakan prosesor Cell Broadband Engine™, atau Cell B.E. yang diciptakan IBM, Sony, dan Toshiba yang juga digunakan untuk Playstation, walaupun tentu saja dengan ”sedikit” modifikasi baru. Ini adalah salah satu superkomputer terbaik, dengan desain baru dan memiliki banyak fitur dan digunakan untuk melakukan perhitungan dan keperluan militer.
Untuk menggambarkan bagaimana kecepatan roadrunner ini, berikut petikan dari Thomas P, D’Agostino, salah seorang programernya.
“To put the performance of the machine in perspective, Thomas P. D’Agostino, the administrator of the National Nuclear Security Administration, said that if all six billion people on earth used hand calculators and performed calculations 24 hours a day and seven days a week, it would take them 46 years to do what the Roadrunner can in one day.”

Saking ekstrimnya kecepatan Roadrunner ini, Thomas P, D’Agostino mengatakan: jika 6 miliar orang di seluruh dunia menggunakan kalkulator tangan dan melakukan perhitungan selama 24 jam sehari dan 7 hari seminggu, maka akan membutuhkan waktu 46 tahun untuk dapat melakukan perhitungan yang setara dengan yang dapat dilakukan roadrunner selama 24 jam. WOW!!!

Tren mutu meningkat



Ketika ujian nasional diuji coba pada tahun 2002 di beberapa daerah di Indonesia, betapa miris kita melihat hasilnya. Kepada murid diujikan soal-soal dengan tingkat kesulitan tertentu serta standar nilai kelulusan minimal 5. Ternyata, hanya 40 persen peserta ujian yang lulus, dan selebihnya, 60 persen, tidak lulus.

Standar kemudian diturunkan menjadi 4. Masih juga 30 persen murid tidak lulus. Karena itu, dalam UAN tahun 2003 standar nilai minimal terpaksa diturunkan menjadi 3,5. Itu pun hasilnya 20 persen murid tidak lulus. Itulah gambaran mutu pendidikan di Indonesia pada 10 tahun silam.

Untuk memicu semangat belajar dan meningkatkan mutu standar nilai, setiap tahun standar dicoba dinaikkan 0,5 poin meski pada tahun 2005 hanya naik 0,2 poin menjadi 4,2.

Tahun ini, standar kelulusan murid sudah mencapai 5,5. Di samping itu, tingkat kesulitan juga ditingkatkan. Artinya, jika dilakukan secara konsisten, standar nilai kelulusan murid-murid Indonesia juga akan terus meningkat untuk bisa keluar dari ketertinggalan negara lain.


Posisi mutu Pendidikan


Tiga indikator dapat digunakan untuk melihat mutu pendidikan kita apakah meningkat atau menurun.
Pertama, membandingkan kondisi keadaan pendidikan kita selama 50 tahun terakhir. Materi ujian berhitung atau matematika murid SD pada tahun 1950-an begitu tinggi tingkat kesulitannya dibandingkan dengan materi tahun 2000. Perbandingan ini menunjukkan terjadinya degradasi mutu pendidikan di Indonesia.

Kedua, membandingkan mutu pendidikan kita dengan negara tetangga. Untuk itu, pada tahun 2002 bahan ujian Ebtanas kita bandingkan dengan ujian akhir sekolah-sekolah di Singapura, Malaysia, dan Filipina, tiga negara yang dapat dimengerti materi ujian nasionalnya karena menggunakan bahasa Inggris dan Melayu.
Materi ujian nasional mereka ternyata sangat mencengangkan—jauh di atas tingkat kesulitan ujian kita—yang sekaligus menggambarkan kualitas pendidikan di ketiga negara tersebut.

Misalnya, ujian Bahasa Inggris dan Matematika sekolah dasar di Malaysia ternyata hampir sama dengan materi ujian SMP di Indonesia. Hal itu berarti Indonesia ketinggalan tiga tahun dibandingkan dengan Malaysia. Ketiga negara ini, sebagaimana diketahui, juga menggelar ujian nasional. Singapura bahkan melakukan ujian internasional bekerja sama dengan Universitas Cambridge.

Ketiga, kita bandingkan pula mutu lulusan setiap daerah dengan melihat tingkat kelulusan tes masuk ke universitas terbaik di Indonesia, seperti UI, ITB, IPB, dan UGM. Ternyata, tidak banyak lulusan SMA daerah yang lulus.

Pada era ujian sekolah, tingkat kelulusan tiap sekolah hampir mencapai 100 persen. Akibatnya, timbul pemikiran, "Buat apa belajar, toh belajar dan tidak belajar sama saja. Semua juga akan diluluskan." Itulah penyebab degradasi mutu pendidikan di negeri ini.


Nasib pendidikan Indonesia tidak ubahnya pelompat galah. Pada tahun 1950-an, mutu pendidikan Indonesia masih sama dengan Malaysia, bahkan Indonesia yang mengajari Malaysia. Belakangan, kemampuan Malaysia semakin meningkat. Sementara Indonesia, karena tidak bisa melompati galah, justru galahnya diturunkan, bukan latihannya yang ditingkatkan.

Ujian Nasional, Cermin Pendidikan Kita



Catatan saya kali ini sengaja mengambil dari artikel Bapak HM. Jusuf Kalla, mantan wakil presiden RI, yang dimuat sebuah media nasional pada tanggal 2 Mei. Judul asli tulisan ini adalah "Ujian Nasional". Saya merasa perlu mengangkat tulisan ini sebagai "kelanjutan" dari catatan saya sebelumnya bertajuk "Sukses UAN Tanpa Stress", sebagai ikhtiar untuk introspeksi dan berbenah. Amburadulnya pendidikan 

kita salah satunya tercermin dari kepanikan menghadapi UAN. Dalam hal ini yang perlu dilakukan bukan menghapus UAN, tetapi membenahi mutu pembelajaran dan pendidikan di sekolah kita.

Jika anak memang kompeten, apa yang harus mereka takuti dari UAN? Tapi jika sekolah-sekolah kita tidak membangun kompetensi, mereka hanya sibuk melatih siswa mengerjakan soal. Ini yang bikin stress. Dan ini merupakan konsekuensi dari kemalasan guru untuk belajar dan berserius mengajar.

Saya berusaha untuk menulis --semoga Allah Ta'ala mudahkan-- catatan sederhana tentang 3 Jalan Meraih Sukses. Semoga dapat menjadi bahan renungan sederhana untuk berbenah.

Sejenak, marilah kita baca artikel Pak JK berikut ini. Akan lebih baik jika Anda sempatkan waktu untuk membaca kembali berbagai buku karya Marzano tentang penting standar mutu pendidikan. Salah satunya, untuk skala pembelajaran di kelas, buku bertajuk Making Standards Useful in the Classroom perlu Anda baca.